Cerpen Tata Surya Matahari Terbaru

Cerpen Tata Surya Matahari Terbaru : Kumpulan Puisi Pantun Terbaru

MATAHARI sedang berkelakar di singgasana langit. Bumi kepanasan, sementara pepohonan letih menanti Sang Dewi Hujan. Kemarin ada Sang Dewi datang. Tapi matahari marah lalu mengusirnya pulang. Aromaneraka kembali menebar di balik hari, menghisap kering sumur-sumur kehidupan. Begitu pun dengan hati Lila. Detaknya menggelegak bagai neraka dalam kisah-kisah dikitab suci. “Bila kau anggap ini neraka, maka jangan bawa serta anak-anakmu lebur di dalamnya,”Mbak Retno berdiri lalu beranjak ke luar kamar. Lila bangkit dari pembaringan, menyeret langkah menuju sebuah meja kecil di pojokkamar. Sepucuk surat masih terbentang di dekat sebuah amplop yang tergeletakmenganga. Tanpa membaca sebenarnya Lila masih ingat betul isi surat itu. Bahkan setiap katayang tertera di situ masih membayang dan memalu dadanya. Namun ada kekuatan lainyang memaksa Lila membaca kembali surat itu. Bahkan sampai berulang-ulang. “Kini kau harus memutuskan di pelabuhan mana akan kau tambatkan perahu hatimu?Karena di sini aku semakin rapuh menanti bintang yang entah kapan ‘kan kujelang,” Deta Setitik air bening bergulir. Surat itu ditemukan Lila tadi pagi. Hampir hancur karena ikut tercuci bersama bajusuaminya. Mulanya ia mengira itu adalah bon-bon pembelian seperti yang biasa iatemukan di kantong kemeja suaminya. Tapi kali ini perkiraan Lila salah. Itu adalah sepucuk surat cinta. Lila tidak tahu siapa Deta, yang ia tahu surat ituadalah ancaman bagi surga kehidupan mereka. Lila melipat surat itu. Bersama amplopnya ia letakkan kembali di tempat semula, dikantong kemeja suaminya. Lila beranjak duduk di muka cermin. Lama ia coba mengenal bayangan perempuan yangada di cermin tersebut. Pancaran di mata perempuan itu sama sekali tidak ia kenal.Redup dan mati. Ya Tuhan bahkan aku merasa asing dengan bayangku sendiri, batin Lila. Perkataan Mbak Retno kembali terngiang-ngiang di telinga Lila. Dihapusnya kuat-kuat butiran bening yang tadi bergulir. Ia bertekad untuk berhenti menangisdan merebut kembali apa yang menjadi miliknya!

Hari berlalu sebagaimana biasa. Tidak ada yang berubah. Dan pagi yang tiba puntetap mendapat ucapan selamat datang dari Lila. Lila tidak ingin memulai perang terbuka dengan suaminya, karena itu persoalan itu ia simpan rapat-rapat. Sepanjang perhatian dan kasih sayang sang suami kepada keluarganya tidak berubah, Lila tidak ingin membangun ruang untuk perselisihan diantara mereka. Lila yakin ada cara lain untuk mengembalikan keutuhan keluarganya. Dengan bantuan Mbak Retno akhirnya Lila tahu siapa Deta, seorang wanita karir yang telah memiliki segalanya. Segalanya? Ya, segala yang tidak dimiliki Lila. Karir, kesempatan mengaktualisasikan diri, pergaulan, dan materi. Tapi tampaknya Deta bukan tipe perempuan penggoda. Apalagi bila terminologi penggoda di identikkan dengan fisik. Tidak, Deta jauh dari kategori itu. Busana yang ia kenakan pun selalu sopan, bahkan sangat sopan. Ia bukan tipe perempuan yang mengandalkan sex appeal untuk menarik perhatian lawan jenis. Dan Lila yakin ketertarikan suaminya kepada Deta pun bukan karena itu. “Tapi seberapa banyak pun kelebihannya, tetap ia tidak berhak merampas kebahagiaan kalian. Kebahagiaanmu dan anak-anakmu, Lila!” kata Mbak Retno. “Tapi apa yang bisa kugunakan untuk melawannya, Mbak? Dia memiliki segalanya.Cantik, berpendidikan, memiliki karir yang jelas, pintar. Sedangkan aku? Apa yang aku miliki sehingga Mbak yakin aku akan mampu memalingkan kembali cinta Mas Rudi kepadaku? Apa, Mbak?!” Lila tidak mampu menahan diri. Ia menangis tersedu-sedu. Mbak Retno terdiam. Ia tahu betul apa yang kini sedang berkecamuk di dada Lila.Dulu ia pernah merasakan hal yang sama. Dan itulah sebabnya ia bersikeras agar Lila berusaha sekuat mungkin mempertahankan kebahagiaan yang ia miliki. Mbak Retno tidak ingin Lila mengecap kepahitan yang sama dengannya. “Lil, mungkin kau tidak menyadari bahwa kau memiliki kekuatan lain yang mungkintidak miliki orang lain. Ketulusan, Lil. Aku mengenalmu seumur hidupku. Dan akutidak pernah menemukan orang yang memiliki ketulusan hati sepertimu,” Mbak Retno mendekap Lila erat-erat. Sejak kematian orang tua mereka memang kedekatan kakakadik ini semakin mengental. “Mbak, aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain merusak keluarga kami. Tapi kini aku perlu sendiri dulu. Aku perlu waktu untuk mencerna semua ini,” jawab Lila. “Ya. Tapi jangan sampai ketika sadar kau telah kehilangan segalanya,” jawab MbakRetno sambil berlalu.

Sore tadi hujan turun sangat lebat. Setelah sekian lama bumi mengharu biru kepanasan, hujan tadi sore itu menjadi berkah yang tidak terhingga bagi seluruh makhluk hidup. Jam di dinding kamar menunjuk ke angka 02.10 dini hari. Hujan kini tinggal menyisakan dingin. Suara binatang malam lamat-lamat terdengar meningkahi sunyi yang tidak kalah menggigit. Lila melipat mukena dan sajadahnya. Hari-hari belakangan ini ia merasa perlu meningkatkan intensitas pertemuan dengan-Nya. Persoalan memang terasa lebih ringandan hati menjadi lebih lapang bilamana kita pulangkan semua kepada Sang Pemilik. “Lila, kemarilah. Ada yang ingin kubicarakan.” Suara Mas Rudi tiba-tiba memecahkesunyian di dalam kamar. Lila duduk di tepi tempat tidur. Menunggu. “Lila, sebetulnya sudah lama aku ingin mengatakan ini. Tapi aku rasa sekarang lahwaktu yang tepat,” kata Mas Rudi pelan. Lila masih menunggu, tapi debur di dadanya terasa kian keras. “Sejak beberapa bulan lalu aku mengenal seorang wanita,” suaminya memulai tapi laluterdiam sejenak. Ya Tuhan, beri kekuatan padaku untuk menghadapi apa yang akan terjadi, doa Liladalam hati. Sementara jauh di dalam dada ia merasa debur itu semakin menggila. “Tidak perlu dikatakan. Aku sudah tahu apa yang terjadi,” kata Lila tiba-tiba.Suaminya terlihat kaget. “Mengapa? Terkejut? Mas, tolong jelaskan kepadaku, mengapa?” Lila berusaha kerasuntuk tidak menangis. Mas Rudi tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak tahu…Sungguh, aku tidak tahu,” jawabnya lirih. “Lalu….lalu kau akan menikah dengannya?” Sebetulnya Lila lebih senang bilasuaminya tidak menjawab apa-apa. Untuk beberapa saat suaminya diam. Tapi kepastian itu meluncur begitu saja darimulut Mas Rudi. “Ya….,” jawabnya singkat. Walaupun jawaban itu keluar dari mulut Mas Rudi dengan sangat pelan tapi di telinga Lila bunyinya bagaikan halilintar yang menyambar dan mengoyak hidupnya.

Walaupun masih berharap semuanya akan kembali normal, namun semua usaha yang dilakukan Lila seperti menemui jalan buntu. Bahkan perselisihan kini kerap menodai kebersamaan mereka. Kian hari Lila merasa suaminya kian tak tersentuh. Jangankanmerengkuh penuh rindu, bertegur sapa saja kini ia enggan. Di ujung pengharapannya Lila berusaha mengetuk nurani Deta sebagai sesama wanita.Ia korbankan egonya untuk menemui Deta. Dalam hati ia menjerit tapi Lila merasa tidak lagi punya pilihan. “Jadi, maksud kedatangan Mbak, apa?” tanya Deta. “Saya hanya minta anda mempertimbangkan lagi keputusan anda untuk menikah dengan suami saya. Walaupun saya tidak masuk dalam pertimbangan anda, tapi cobalah untuk melihat anak-anak kami,” Lila berkata perlahan. “Anda punya segalanya. Saya yakin anda bisa memilih lelaki manapun yang anda mau. Sementara kami? Kami tidak punya siapa-siapa selain Mas Rudi,” Lila merasa matanya mulai panas. Tapi ia berusaha untuk tegar. “Mbak, saya mengerti. Sangat mengerti. Tapi…tapi saya tidak bisa,” jawab Deta lirih. “Tidak bisa? Kenapa?” cecar Lila. “Karena….Karena kami sudah menikah lima hari yang lalu,” Deta berusaha menyembunyikan perasaannya. “Tapi….” Lila tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Matanya basah. “Ya, Mbak. Saya minta maaf. Tapi semuanya sudah terjadi. Kami sudah menikah,” kata Deta pasti. Lila merasa kalah. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan surgakehidupannya. Neraka itu kini betul-betul ada di depan mata, dan ia bersamaanak-anaknya terperangkap di bibir neraka itu. Pelita yang diharapkan mampu menerangi telah lama redup dan padam. Hidupnya kinitak lebih bagaikan jelaga. Lila melangkah dengan hati tercabik. Di balik pintu Deta memandang kepergian Lila. Butiran air bening mengalir di pipimulusnya. “Maafkan saya Mbak Lila. Tapi saya mencintai suami Mbak. Dan saya tidak mampuberkelit dari perasaan itu…,” bisik Deta pedih. Ditariknya nafas dalam-dalam. Matanya terpejam rapat ketika menghembuskan kembalinafas itu dengan sangat perlahan. Deta berharap saat membuka mata, beban rasabersalah di hatinya akan ikut sirna. Tapi tentu saja itu sia-sia.

 Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :

Iklan

Cerpen Ruang Tamu Unik Lucu Terbaru

Cerpen Ruang Tamu Unik Lucu Terbaru : Kumpulan Puisi Pantun Terbaru

Wak Tejo tepekur di bangku kayu depan rumahnya. Pikirannya berkelana ke masa-masa yang telah dilalui. Sebentar ingatannya hinggap pada cerita masa mudanya, di mana dulu bersama isteri tercinta ia berjuang keras menaklukkan nasib. Sebentar kemudian ia menekuri kehidupan yang kini ia jalani. Kehidupan yang dulu sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Di usianya yang sudah kepala enam Wak Tejo masih harus berkutat dengan berbagai permasalahan hidup yang pelik. Anak-anak yang diharapkan mampu menjadi pelindung dimasa tua ternyata justru telah menggerogoti nyawanya. Dari kedua anaknya hanya si bungsu yang memiliki perhatian lebih padanya. Namun ia tidak dapat berharap banyak karena sejak menantunya meninggal kini anak bungsunya itu harus sendirian saja menanggung beban keluarga. Tentu bukan beban yang ringan bagi seorang janda untuk menghidupi empat anak-anaknya. Wak Tejo tidak mau menambah berat beban anaknya itu dengan persoalan hidup miliknya. Tidak, ia lebih suka menikmati persoalan demi persoalan itu sendiri. Wak Tejo memilih untuk tetap tinggal di rumahnya bersama anak tertua, menantu dan cucu-cucunya. Walau kadang ia merasa terasing di rumahnya sendiri namun Wak Tejo tetap bertahan. “Ah, seandainya kamu belum meninggal Sum. Tentu tidak seperti ini hidupku,” Wak Tejo membatin. Tapi apa mau dikata, Sumi isterinya tercinta, telah dipanggil Yang Kuasa sejak bertahun-tahun yang lalu. Tinggallah kini Wak Tejo sendirian menapaki hari demi hari yang sarat dengan beban dan persoalan. Ketika dulu Ndari anak sulungnya bermaksud menikah dengan Danang, Wak Tejo sebetulnya tidak setuju. “Danang itu bajingan, Nduk. Semua orang kampung juga tahu itu!” nasehat Wak Tejokepada Ndari. Tapi anaknya itu tetap ngotot. “Pokoknya aku mau nikah sama Danang. Kalau ndak boleh aku akan pergi dari rumah ini,” ancam Ndari. Wak Tejo tidak mau anak perempuannya minggat dari rumah. Karena itu dengan berat hati ia restui anaknya menikah dengan bajingan itu.

Di satu sisi Wak Tejo agak terhibur melihat anak perempuannya itu tampak bahagia. Tapi di sisi lain ia melihat betapa Danang, sang menantu, tidak bisa diharapkan menjadi suami yang baik. Setelah beberapa tahun Wak Tejo mulai mencium adanya ketidak harmonisan dalam keluarga Ndari dan Danang. Suami isteri itu kerap bertengkar. Walaupun Ndari selalu menyembunyikan persoalan rumah tangganya namun naluri Wak Tejo sebagai orang tua tidak dapat dibohongi. Tapi Wak Tejo tahu ia tidak punya hak mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Semakin hari Danang semakin menancapkan cengkeramannya di rumah. Kebiasaannya berjudi telah membuat harta Wak Tejo terkuras satu demi satu. Padahal untuk memperoleh semuanya itu Wak Tejo bersama almarhum isterinya dulu harus jungkir balik membanting tulang. Mulanya Wak Tejo diam saja walaupun ia tahu sepeda motor, tape recorder, televisidan beberapa barang lain di rumahnya raib satu per satu. Ia tahu persis bahwabarang-barang itu telah dijual oleh menantunya untuk menutupi hutang judi yang kian hari kian membengkak. “Ah, ndak kok Pak. Barang-barang itu dijual oleh Mas Danang untuk modal usaha. Bapak tahu sendiri kan kalau Mas Danang itu tidak punya pekerjaan tetap. Karena itu ia menjual barang-barang itu untuk modal usaha,” kata Ndari ketika Wak Tejo berbicara kepadanya. Wak Tejo lalu menyadari bahwa Ndari sangat mencintai Danang. Bahkan cinta itu telah membutakan Ndari akan kelakuan bajingan itu. Kadang-kadang Wak Tejo berpikir bahwa Danang telah mengguna-gunai anaknya sehingga menjadi seperti itu. Tapi Wak Tejo tidak dapat berbuat banyak. Ia tidak mau menodai kebahagiaan anaknya.Karena itu ia diam saja. Tapi rupanya makin hari tingkah Danang semakin di luar kontrol. Sawah dan ladang milik Wak Tejo yang rencananya akan dibagi-bagikan sebagai warisan telah dirampas oleh Danang. Tanpa sepengetahuan Wak Tejo dan entah bagaimana caranya Danang telah menggadaikan sawah-sawah itu. Wak Tejo meradang. Ia marah besar. Tapi kemarahan Wak Tejo bagaikan api yang menyulut bensin. Kemarahan Wak Tejodi balas dengan amarah yang lebih buas oleh Danang. Bahkan kalau tidak ada tetangga yang melerai mungkin Wak Tejo sudah tewas di tangan Danang. Wak Tejo diajak menyingkir oleh para tetangga. Wak Tejo ingin berontak tapi orang-orang itu terlalu erat memeganginya. Nafas Wak Tejo terengah menahan amarah. Sementara Ndari bersimpuh di pojokan sembari sesenggukan.

Besoknya tangis Ndari pecah karena ternyata sang suami tercinta nekat meninggalkan rumah. Meninggalkan dirinya dan kedua anak mereka. Ndari berusaha menahan tapi Danang tetap bergeming. “Bapakmu sudah menghinaku. Aku tidak sudi lagi hidup di rumah ini. Aku akan pergi dan kamu tidak perlu mencariku!” kata Danang menyibak tangan Ndari yang mencengkeram kuat-kuat bajunya. Danang melangkah dengan membawa amarah. Segala caci maki keluar dari mulutnya. Ndari berteriak memanggilnya untuk kembali. Tapi cinta dan air mata Ndari tidak cukup kuat untuk menarik Danang agar kembali. “Jangan pergi, Mas. Ingat anak-anak…,” ratap Ndari. Tapi Danang tak peduli. Sementara itu dari jendela kamar sepasang mata tua milik Wak Tejo menerawang memandangi langit. Hatinya tercekik mendengar ratapan Ndari, anak yang amat dikasihinya.

Sejak kepergian suaminya Ndari lebih banyak menutup diri. Untuk menghidupi anak-anaknya Ndari membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Pagi-pagi sekali Ndari berjualan kue di pasar. Setelah dari pasar baru ia pulang untuk membuka warung di rumah. Dengan cara inilah Ndari melanjutkan hidup. Bagaimanapun Wak Tejo sudah terlalu tua untuk bekerja dan mau tidak mau Ndari harus memainkan peranan sebagai tulang punggung keluarga. Sebelum sawah miliknya digadaikan oleh Danang sebetulnya Wak Tejo masih memiliki penghasilan. Walau tidak banyak sawah itu masih memberikan pendapatan dari sistembagi hasil yang ia terapkan kepada para petani yang mengelolanya. Tapi kini WakTejo sama sekali tidak punya sumber penghasilan yang bisa diharapkan. Wak Tejo merasa tidak enak hati menggantungkan hidupnya pada Ndari. Ia kasihan padaNdari. Wak Tejo merasa dia lah yang menjadi penyebab runtuhnya rumah tangga anaknya itu. Tapi Wak Tejo tidak memiliki pilihan lain yang lebih baik. Karena itu ketika suatu hari tiba-tiba Danang kembali muncul Wak Tejo tidak bereaksi. Sepanjang Ndari dan cucu-cucunya tidak keberatan menerima kembali kehadiran bajingan itu maka Wak Tejo akan diam saja. Ia tidak ingin mengulangikesalahan yang sama kepada Ndari. “Maafkan saya, Pak. Tolong berikan saya kesempatan sekali lagi,” kata Danang berusaha menyakinkan Wak Tejo. Wak Tejo diam dan membiarkan Danang mencium tangannya.

Kepulangan Danang ternyata tidak merubah banyak hal. Danang yang sekarang masih tetap sama dengan Danang yang dulu. Tidak ada yang berbeda selain kelicikannya yang semakin menjadi. Wak Tejo dapat merasakan itu. Pengalamannya menjalani hidup telah mengajarkan kepadanya bahwa tidak ada bajingan yang bisa dipercaya. Apalagi Danang. Sejak Danang kembali hati Wak Tejo tidak pernah lagi merasakan kedamaian. Waktu pun semakin ganas menggerogoti kerentaannya. Kian hari Wak Tejo merasa semakin lemah dan semakin cepat menjadi tua. Jiwa Wak Tejo bagai terbelenggu. Ingin ia berontak dan melepaskan diri. Tapi ia takut belenggu itu akan berbalik menyakiti anak dan cucu-cucunya. Jadi ia biarkan saja belenggu itu semakin erat mencengkeramnya. Kadang ia merasa dadanya sangat sesak dan tidak mampu lagi bernafas. Tapi Wak Tejo tahu ia harus bertahan. Ia tidak boleh mati atau bajingan itu akan menari-nari di atas mayatnya. Tapi perkiraan Wak Tejo salah. “Jadi kami beri waktu seminggu bagi Bapak dan keluarga untuk pindah,” kata seorang petugas bank bernama Sujono di ruang tamu rumahnya sore itu. Wak Tejo bagai disambar petir ketika petugas itu menjelaskan bahwa rumah yang selama ini ditempatinya ternyata harus disita oleh bank. Danang telah menggunakan sertifikat tanah dan rumah untuk meminjam uang di bank dan Wak Tejo tak pernah tahu. Wak Tejo juga tidak pernah tahu kalau tabungannya di bank juga sudah terkuras habis oleh bajingan yang tinggal bersamanya itu. Ternyata untuk menari di atas mayatnya Danang merasa tidak perlu menunggunya matiter lebih dulu. Penjudi itu telah menghisap habis darahnya. Tak ada yang tersisa. Wak Tejo hanya menatap hampa pada langit yang membentang luas sore itu. Beberapa awan bergerak melintasinya. Mendung menggantung dan kemudian hujan seperti tertumpah dari langit. Wak Tejo kedinginan. Dirapatkannya sarung yang sedari tadi melilit di tubuhnya. “Masuk Mbah, hujan tuh!” teriak Nining, salah seorang cucunya. Wak Tejo beranjak dari kursi kayu tempatnya sedari tadi duduk tepekur. Langkahnya gontai memasuki rumahnya. Ah, bukan….rumah itu bukan lagi miliknya. Besok ia harus pergi meninggalkan rumah itu walaupun sampai detik ini Wak Tejo masih tidak tahu kemana mereka harus pergi. Sementara Danang, bajingan yang selama ini ia pelihara, entah kini berada di mana.



Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :

Cerpen Penjara Romantis Unik Lucu Terbaru

Cerpen Penjara Romantis Unik Lucu Terbaru Kumpulan Puisi Pantun Terbaru
Untuk yang ke sekian kalinya Drajat membaca surat itu. Bola matanya menari
dari satu kata ke kata lainnya. Drajat merasa sudah hampir hafal
setiap kata yang tertulis di sana. Namun begitu, tetap saja ia merasa
ingin membaca surat itu. Lagi dan lagi.
Sejak kedatangan surat itu tiga hari yang lalu, Drajat seperti kebingungan.
Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seperti deretan kata yang
tak dipahaminya. Setiap tindakan yang ia buat bagaikan ia tak ada di
sana. Drajat bimbang. Mengambang. Sesungguhnyalah ia sangat
kebingungan.
“Anakku di kampung harus segera dioperasi, Man. Tumor di otaknya tak bisa
lagi menunggu lama,” kata Drajat kepada Oman, teman satu kosnya.
“Kata dokter, kalau tidak segera dioperasi Handoko anakku itu
tidak akan bisa hidup lebih lama.”
Oman diam saja. Dia sendiri tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur
Drajat. Selama di Jakarta, hidup mereka berdua sama saja susahnya.
Pekerjaan sebagai kuli bangunan sama sekali tidak menjanjikan
apapun. Hanya cukup untuk bayar kos murahan, makan dua kali sehari
dan kalau berhemat-hemat bisa mengirimkan uang seadanya ke kampung.
“Sabar, Jat. Semua persoalan pasti ada jalan keluarnya,” kata Oman
sembari menepuk-nepuk bahu Drajat. Sesungguhnya ia sendiri tidak
yakin pada perkataannya. Tapi apa lagi yang bisa dikatakannya untuk
menghibur Drajat yang tampak sangat putus asa itu?
Drajat membaringkan tubuhnya di atas kasur tipis tanpa sprei yang setiap
hari ia tiduri bersama Oman. Saking tipisnya, Drajat masih dapat
merasakan dingin lantai di bawahnya menembus hingga ke kulitnya. Di
luar hujan masih menggemuruh. Seharian ini Drajat dan kawan-kawannya
sesama kuli sama sekali tidak bisa bekerja. Hujan yang turun sangat
deras sejak subuh menghalangi mereka untuk bekerja.

Drajat
menarik sarung tua miliknya yang sudah setia selama bertahun-tahun
menemani. Dulu, sarung itu dibelikan istrinya di Pasar Pembangunan di
kampung halamannya. Bukan sarung mahal, tapi Drajat sangat gembira
waktu istrinya memberikan sarung itu sebagai hadiah ulang tahun.
Seumur-umur tidak pernah Drajat menerima hadiah ulang tahun. Bahkan
ia sendiri tidak pernah mengingat-ingat tanggal kelahirannya karena
memang ia merasa tidak ada gunanya.

Ditutupinya
seluruh tubuhnya dengan sarung itu. Dingin begitu menggigit. Drajat
meringkuk di pojokan. Tapi ia sama sekali tidak mampu memejamkan
mata. Bayangan Handoko, anak sulungnya, memenuhi pelupuk matanya.

“Ya
Tuhan, mengapa harus Handoko?” rintihnya dalam hati. Handoko
adalah putera pertamanya yang ia peroleh dengan susah payah. Tujuh
tahun setelah menikah, Drajat dan Narti istrinya masih belum memiliki
keturunan. Segala cara sudah mereka coba. Tapi hasilnya tetap nihil.
Mendekati
usia sepuluh tahun perkawinan baru Handoko lahir. Disusul kedua
adiknya. Walau sangat menginginkan anak, tapi kelahiran tiga anaknya
membuat Drajat harus ekstra keras membanting tulang. Dan penghasilan
dari buruh angkut pasar yang tidak seberapa memaksa Drajat mengadu
peruntungan di ibu kota.
Namun
sayang, di ibu kota nasibnya sama sekali tidak membaik. Tidak ada
pekerjaan yang bisa ia dapatkan. Minimnya pendidikan dan ketrampilan
membuat Drajat kalah bersaing dengan jutaan pencari kerja lain yang
memadati Jakarta. “Itu karena sampean sama sekali tidak
memiliki daya tawar,” demikian kata seorang mahasiswa yang dulu
tinggal di sebelah kosannya. “Penampilan minim, ketrampilan nol,
pendidikan minus, lalu apa yang bisa sampean jual?” kata
mahasiswa itu jujur, namun entah kenapa terdengar kejam.
Tapi
Drajat tidak bisa menyalahkan penilaian jujur sang mahasiswa. Yah,
memang begitulah keadaannya. Dan kini, dengan penghasilan yang ia
peroleh dari pekerjaan sebagai kuli bangunan Drajat mati kutu
menghadapi vonis dokter atas penyakit anaknya.
Sampai
hari ini, surat dari isterinya itu belum sempat ia balas. Bukan
karena ia tidak punya waktu, tapi karena Drajat tidak tega mengatakan
kepada isterinya bahwa ia tidak punya uang atau harta yang bisa ia
jual untuk biaya pengobatan buah hati mereka. Narti pasti sangat
gelisah menanti jawaban darinya. Terlebih maut terasa begitu dekat
membayangi putra mereka Handoko. Dan waktu…tentu saja waktu tak
akan pernah mau menunggu!
Dari
beberapa teman yang ia datangi, tak satupun yang bisa membantunya.
Yah, bagaimana bisa membantu lha wong untuk hidup sendiri saja susah.
Drajat putus asa. Ia tidak melihat ada celah yang bisa menolongnya.
Mengharapkan teman, jelas itu tidak mungkin. Seluruh teman-temannya
itu miskin. Beberapa malah lebih miskin dari dirinya. Lalu bagaimana
ia mendapatkan uang Rp 50 juta yang diminta dokter?
Satu-satunya
harta berharga milik mereka adalah rumah yang kini ditinggali isteri
dan anak-anaknya. Tapi kalau rumah itu dijual, dimana mereka akan
tinggal? Sementara bantuan dari saudara sepertinya berat untuk
diandalkan.
Tiba-tiba
Drajat teringat sesuatu. Pak Mandor! Ya, mengapa selama ini tak
pernah terpikir olehnya? Bukankah ia bisa mencoba menemui Pak Mandor
dan menceritakan kesulitannya. Siapa tahu Pak Mandor bisa membantu.
Bukankah yang namanya mandor uangnya pasti banyak?

“Apa?
Kamu mau minta tolong Pak Mandor?” Oman kaget ketika pagi itu
Drajat mengatakan kepadanya bahwa ia akan menemui Pak Mandor.
“Ya,
siapa tahu dia bisa menolongku,” jawab Drajat.
“Jaat….Jat!
Kayak kamu nggak kenal Pak Mandor saja. Dia itu kan terkenal
pelitnya! Mana mau dia membantu kamu, apalagi memberikan duit segitu
banyaknya!” kata Oman.
“Tapi…..”
“Aku
nasehatkan kepadamu, Jat. Daripada kamu sakit hati nanti dimaki-maki
Pak Mandor, lebih baik kamu urungkan niatmu itu. Aku jamin Pak Mandor
tidak akan memberikan pinjaman sepeserpun untuk kamu!” kata
Oman.
Drajat
diam. Oman benar, pikirnya. Selama ini seluruh kuli yang bekerja di
proyek takut kepada Pak Mandor. Dia tipe orang yang selalu ingin
menunjukkan kekuasaannya. Orang lain tak boleh ada yang membantah
seluruh perintahnya. Belum lagi kalimat-kalimat pedas yang selalu
berloncatan keluar dari mulutnya yang berbisa. Terutama kalau sedang
marah.
Tidak,
tidak ada satupun kuli di proyek itu yang mau berurusan dengan Pak
Mandor kalau tidak terpaksa.
“Tapi
aku tidak punya pilihan, Man. Aku harus mencoba betapapun musykil
kemungkinan yang ada,” kata Drajat kukuh.

“Dasar
tidak tahu diuntung! Kamu pikir aku ini bank yang bisa seenaknya
ngasih kamu duit?!” Siang itu suara Pak Mandor yang menggelegar
terdengar oleh seluruh kuli yang sedang istirahat makan siang. Oman
yang duduk bersama kuli lain bisa menebak apa yang sedang terjadi di
kantor Pak Mandor. “Pasti karena Drajat,” batin Oman.
“Tapi
Pak, saya….,”

Drajat
tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena kata-kata yang kemudian
keluar dari mulut Pak Mandor lebih keras memotong suaranya.
“Tidak
ada tapi. Sudah untung kamu aku terima kerja di sini. Kamu pikir
dengan diterima bekerja di sini kamu bisa seenak perutmu minjem duit?
Dengar ya. Walaupun kamu seumur hidup jadi kuli di sini, kamu tidak
akan pernah bisa membayar cicilan untuk melunasi uang Rp 50 juta yang
kamu minta. Jadi sekarang lebih baik kamu keluar dan kembali
bekerja!” maki Pak Mandor.
“Tapi
bagaimana dengan nasib anak saya, Pak?” tanya Drajat masih terus
berusaha. Ia tidak punya pilihan. Cuma Pak Mandor satu-satunya
harapan untuk bisa mendapatkan pinjaman uang. Yah, walaupun tidak Rp
50 juta, berapa sajalah yang diikhlaskan Pak Mandor, demikian batin
Drajat.
Tapi
apa yang didengarnya kemudian membuat Drajat tak bisa bergerak dan
hanya mampu terpaku di tempatnya berdiri.
“Dengar!
Aku tidak peduli bagaimana nasib anakmu. Aku tidak peduli kalaupun
dia mampus sekalipun! Sekarang keluar!” Pak Mandor meledak.
Sekonyong-konyong
Drajat merasakan tekanan yang maha hebat mendesak-desak di dalam
kepalanya. Aliran darahnya berhenti sejenak dan tiba-tiba mengalir
deras menciptakan tekanan lain yang terus naik ke kepala. Menusuk,
menghantam, dan bagaikan palu yang terus-menerus dipukul menggempur
kesadarannya. Tekanan itu demikian keras menyerang Drajat dari
berbagai arah. Drajat berusaha mengendalikan diri, tapi sia-sia.

Drajat
tidak mampu lagi mencerna apa yang dialaminya. Pandangannya gelap.
Hatinya panas seperti akan meledak. Drajat merasakan bumi seakan
berputar-putar. Sedetik Drajat tidak sadar apa yang terjadi di
sekelilingnya. Namun ketika kesadaran itu datang, semua sudah
terlambat.
Drajat
melihat Pak Mandor terkapar di hadapannya bersimbah darah. Sebilah
kayu besar tergeletak di sampingnya. Berlumuran darah sama banyaknya.

Drajat
mendapati dirinya bersimpuh di dekat mayat Pak Mandor. Ketegangan
merayapi dirinya. Apa yang sudah kulakukan? Drajat membatin gelisah.
Oman
dan teman-teman Drajat lainnya tiba-tiba sudah berdiri mengelilingi
Drajat dan jenazah Pak Mandor. Seruan tertahan dan kengerian
membayang jelas di bola mata mereka.

Untuk
yang ke sekian kalinya Drajat membaca surat itu. Bola matanya menari
dari satu kata ke kata lainnya. Drajat merasa sudah hampir hafal
setiap kata yang tertulis di sana. Namun begitu, tetap saja ia merasa
ingin membaca surat itu. Lagi dan lagi.
Surat
itu datang tiga hari yang lalu. Dari istrinya, Narti. Bukan, Narti
bukan ingin meminta uang untuk biaya operasi anaknya. Tapi lebih dari
itu, Narti menulis bahwa kini Handoko tidak lagi membutuhkan biaya
operasi. Bahkan kini Handoko sudah terbebas dari rasa sakit yang tiap
hari menyiksanya. Handoko sudah meninggal.
Drajat
merasakan matanya panas. Sebulir air bening jatuh dari sudut matanya.

“Maafkan
Bapak, Han…Maafkan Bapak. Bapak memang tidak berguna….Tidak
berguna! Handoko…Handoko!!” Drajat berteriak sekuat tenaga.

Namun
seberapapun kuat Drajat berteriak, tetap saja beban yang menghimpit
ruang dadanya tak pernah berkurang sedikitpun. Teriakannya hanya
membentur dinding-dinding berjeruji yang kini mengurungnya. Drajat
terpenjara. Lahir dan batin!

Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :

 

Cerpen SMS Romantis Unik Lucu Terbaru

Cerpen SMS Romantis Unik Lucu Terbaru  Kumpulan Puisi Pantun Terbaru Tak sengaja sebetulnya aku membaca SMS itu. Dari kebiasaan bermain-main dengan hape orang-orang di rumah, baik itu hapeku, anakku sampai hape suamiku. Apalagi hape suamiku itu keluaran terbaru yang dibelinya kurang dari seminggu lalu. Dan bagiku yang terbiasa dengan hape butut, tentu saja aku jadi lebih penasaran ingin mengeksplornya.
Terlebih hari ini hari Minggu. Aku tidak perlu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan anak dan suami. Anakku juga sedang menginap di rumah neneknya. Dan suamiku, pada jam segini (kulirik jam di samping tempat tidur, pukul 06.00 WIB) pastinya lagi nonton berita pagi di tv.
Kuraih sebuah hape yang berada dalam jangkauan terdekat denganku. Hape suamiku. Memang sudah menjadi kebiasaannya meletakkan hape di bawah bantal karena kadang-kadang sebelum tidur ia asyik mendengarkan lagu-lagu dari headset.

Sambil merilekskan diri karena kupikir hari ini hari libur, jariku mulai lincah berpindah dari satu tuts ke tuts lainnya. Memuaskan rasa ingin tahuku pada fitur-fitur yang dimiliki oleh hape yang menurut suamiku canggih itu.
Dari game, internet, galeri foto hingga akhirnya petualanganku berlabuh di layanan Pesan. Awalnya karena penasaran. Di dalam layanan Pesan Masuk tertera sederet pesan yang dikirimkan dari satu nomor yang sama. Sempat aku menghitungnya. Ada 10 pesan sekaligus. Nomor yang sama. Tanpa jeda. Lha, jarang-jarang toh orang ngirim 10 SMS sekaligus kalau tidak penting-penting amat.
Kubuka SMS pertama dari nomor itu. Wuss…hatiku langsung berdebar kencang. Kubuka SMS berikutnya, debaran itu semakin bertambah keras memukul-mukul dadaku. SMS ketiga, seperti sebuah batu besar jatuh menimpaku dan menghimpitku tepat di bawahnya. Tak bisa bergerak. Tak bisa bernafas. Dan ketika sampai di SMS terakhir aku sudah kehabisan kekuatan untuk mencerna apa yang baru saja aku baca.

Perempuan itu….Ya, samar-samar aku jadi ingat kembali sebuah kisah yang pernah diceritakan suamiku dulu, ketika kami belum mengikatkan diri pada komitmen pernikahan. Saat itu suamiku menceritakan bagaimana hubungannya dengan seorang perempuan dari masa lalunya. Yang berharap terlalu banyak dari dirinya yang tak bisa menawarkan apa-apa selain ketidakmampuannya untuk berterus terang mengatakan bahwa ia tidak bisa mencintai perempuan itu.

Dan kini, SMS-SMS tersebut berisi gugatan atas ketidakbahagiaan yang perempuan itu alami dari hubungan yang ia ciptakan dengan suamiku dulu. Gugatan yang menurutku sangat tidak pada waktunya.

Rasa penasaran terhadap apa jawaban suamiku terhadap SMS itu tidak lebih kecil dari rasa penasaranku ketika menemukan SMS itu tadi.
Di file Berita Terkirim aku dapat secara jelas membaca seluruh jawaban suamiku terhadap SMS dari perempuan itu. Dan kenyataan yang kuhadapi ternyata lebih menyakitkan daripada ketika tadi aku membuka SMS perempuan itu.
Gedubrak!!

Pintu kamar kubanting sekuat tenaga. Suamiku yang sedang duduk nonton televisi langsung menoleh. Dapat kutangkap keterkejutan di wajahnya. Aku memang tidak pernah bereaksi sekeras ini terhadap persoalan-persoalan yang kadang menimpa rumah tangga kami. Tapi saat ini aku tak peduli. Bahkan kalau harus memecahkan seluruh jendela dan membanting seluruh pintu yang ada di rumah ini sekalipun emosiku masih belum dapat terpuaskan. Dan itu membuatku tak mampu berkata-kata ketika suamiku menuntut penjelasan atas tindakanku itu.

“Ada apa? Kenapa membanting pintu?” ia bertanya tegas. Tapi di telingaku suaranya itu bagaikan suara orang yang penuh kepura-puraan.

Aku tidak bisa menjawab. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk meredam ledakan-ledakan yang terjadi di dalam diriku. Mungkin kalau saat ini ada seseorang yang menyiramkan bensin ke arahku, badanku bisa langsung terbakar karena panasnya!
Sebagai jawaban, kulemparkan hape yang baru dibeli suamiku dengan uang bonus awal tahun dari kantornya itu ke dinding. Pyaarr!! Hape itu pecah berantakan.

Dapat kulihat dengan jelas perubahan di diri suamiku. Wajahnya menjadi tegang dan memerah. Mungkin ia marah. Tapi di mataku perubahan di wajahnya itu lebih karena dosanya yang terbongkar, bukan karena amarah yang ia tahan.

“Biar aku jelaskan,” desisnya.
“Tak ada yang perlu kamu jelaskan!” mataku garang menatap langsung ke matanya. “Sungguh, aku sama sekali tidak mengira kau bisa melakukan ini. Kau sembunyikan semuanya dariku seolah tidak pernah terjadi apa-apa.”
“Aku tidak bermaksud begitu,” katanya pelan.

“Apapun maksud kamu, yang jelas kamu sudah tidak jujur kepadaku. Apa yang kamu harapkan dari semua ini? Apakah kamu pikir dengan SMS-SMS itu kamu bisa menembus lorong waktu dan memperbaiki keadaan untuk menebus rasa bersalahmu karena sudah meninggalkannya dulu?” Aku kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang kupikirkan.

Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada laki-laki yang kini berstatus sebagai suamiku itu. Apa yang ada di pikirannya ketika meladeni SMS-SMS tak berguna itu. Apakah keberadaan aku sebagai seorang isteri sama sekali tak menjadi pengingat baginya dalam berhubungan kembali dengan perempuan itu dan mengenang semua masa lalu mereka? Semua pertanyaan itu berkumpul di kepalaku, berdesakan ingin saling mendahului keluar.

Tapi saat ini aku sedang tidak ingin mendebat siapa-siapa. Kenyataan yang kuhadapi telah mengguncangkan kesadaran dan minatku terhadap apapun. Kubanting pintu dan masuk ke kamar. Di atas kasur aku menangis sepuasnya.

Dapat kudengar samar-samar laki-laki itu memanggil-manggil namaku.

***

Kebuntuan dan kebisuan di antara aku dan suamiku tak pernah terpecahkan berhari-hari setelah hari Minggu itu. Aku tak peduli dan aku tak ingin berusaha mencairkan keadaan. Aku tidak sudi. Kalau dia tak menganggap keberadaanku sebagai seorang isteri, maka untuk apa aku harus repot-repot menghormatinya sebagai suami? Aku sendiri tak menyangka, dendam itu ternyata begitu cepat menguasai jiwaku.
Bahkan berhari-hari setelah peristiwa itu pun, ingatan akan SMS-SMS tersebut masih mampu membuat air mataku mengalir deras. Mengingat-ingat kesalahan memang selalu jauh lebih mudah daripada memaafkan!

***

Empat hari setelah peristiwa itu suamiku jatuh sakit. Aku tidak tahu pasti penyakit apa yang dideritanya. Aku tidak peduli. Yang aku lihat, ia terlihat jauh lebih lemah. Tubuhnya layu. Pucat. Tak bersinar.

Sama sepertiku, suamiku juga tak lagi banyak berbicara. Tak lagi ia berusaha membela diri atas semua tuduhan yang pernah aku lontarkan kepadanya. Ia kini lebih banyak diam. Sekali-sekali ia menyapaku, tapi aku tak berminat untuk membalas sapaan-sapaannya.

Namun betapapun dalam luka yang tertoreh di dalam hatiku, tetap saja lama kelamaan aku tak tega melihat kondisi suamiku. Sudah dua hari ini ia terbaring di tempat tidur. Badannya terasa panas. Ini aku tahu ketika secara tak sengaja menyentuh tangannya.

“Mungkin sebaiknya kamu ke rumah sakit,” kataku dengan nada yang tak terlalu ramah. Sakit hatiku membuatku lebih suka memanggilnya dengan “kamu” saja. Bukan “Mas” seperti sebelumnya.
“Tidak usah,” ia menjawab singkat.

“Kalau begitu, makanlah dulu.” Aku sama sekali tak berusaha membujuknya untuk mau ke dokter. Kebiasaan yang selalu harus kulakukan setiap kali laki-laki itu sakit. Tapi kini aku tak berminat melakukannya. Biar saja, kalau tak tahan lagi toh ia akan berobat juga. Demikian batinku.
Tapi perkiraanku salah. Ia tetap tak kemana-mana. Dan kondisinya semakin hari semakin lemah. Anehnya, rasa kesalku kepadanya lebih besar daripada rasa kasihanku. Aku kesal karena ia membiarkan dirinya dikalahkan oleh penyakit itu. Aku kesal karena ia tak berusaha untuk sembuh. Apakah itu caranya untuk menghukum dirinya sendiri?!

“Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti itu,” kataku suatu malam, bagaimanapun aku tak ingin melihat dirinya terkapar terus menerus di tempat tidur.

Tapi ia sama sekali tak menjawab. Hanya matanya menatap lurus ke mataku. Lama sekali. Aku dapat melihat sebersit kepedihan terpancar di sana. Bahkan kulihat mata itu mulai berkaca-kaca. Ya Tuhan….tiba-tiba aku sadar bahwa suamiku sama terlukanya seperti aku. Walaupun mungkin untuk alasan yang berbeda.

“Mengapa kau tak bisa memaafkan?” desahnya pelan hampir tak terdengar.

Aku terpana mendengar dalamnya kesedihan yang menggantung dalam suara itu. Benarkah reaksiku sudah demikian melukai hati laki-laki ini? Tiba-tiba saja aku tidak mengerti harus berbuat apa. Tatapan mata suamiku yang sarat akan luka dan kesedihan ternyata membuat hatiku lebih terluka daripada sebelumnya. Aku sadar bahwa aku teramat mencintai laki-laki ini. Aku terluka ketika melihat ia terluka. Dan aku menderita melihat kesedihan yang membayang jelas di matanya. Di suaranya. Di penderitaannya.
“Ibu….Ibu…!”

Tiba-tiba suara anakku menyentakkan lamunanku. Aku berlari keluar kamar. Kudapati anakku sedang menangis sambil memanggil-manggil suamiku yang terkapar di lantai kamar mandi. Ya Tuhan, aku sama sekali tak menyadari kalau tadi suamiku sudah beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Kondisinya yang semakin lemah ternyata tak mampu menopang tubuhnya sehingga ia terjatuh.

***

“Suami ibu saat ini dalam keadaan koma. Kapan ia bisa sadar kembali kami tidak tahu. Bisa sehari, sebulan, setahun….atau mungkin tak akan pernah sadar sama sekali. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu dan berdoa untuk yang terbaik,” suara dokter masih terngiang-ngiang di telingaku. Tapi aku tak bisa lagi menangis. Seluruh emosi yang bercampur aduk di hatiku membuatku tak tahu lagi mesti menangis atau bagaimana. Semua terlalu cepat terjadi. Sebelum aku sempat mencernanya.
Di hadapanku, suamiku terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selang infus menancap di tubuhnya. Sama sekali tak ada gerakan. Hanya nafas yang terlihat samar-samar.
Dalam hati aku meraung-raung melihat betapa tak berdayanya orang yang kucintai itu kini.
Keesokan hari, ketika berkesempatan pulang ke rumah aku hanya duduk di tepi tempat tidur kami. Aku hanya bisa menciumi bantal suamiku yang kemarin masih ia tiduri. “Ya Tuhan…aku mencintai suamiku. Kembalikan ia Tuhan….Beri kesempatan kepadaku untuk meminta maaf kepadanya. Aku tak peduli apa yang sudah ia lakukan. Aku tak peduli. Aku hanya ingin ia kembali kepada kami, kepadaku dan kepada anakku.”

Di balik bantal itu kutemukan hape milik suamiku yang tempo hari kubanting dan hancur berantakan. Tapi kini hape itu sudah kembali utuh. Rupanya suamiku sudah menyatukan kembali potongan-potongannya yang saat itu berserakan entah kemana-mana.
Kutekan tuts-tutsnya, walau tanpa emosi apapun. Bahkan aku tidak sadar ketika sampai pada file Berita Tersimpan. Hanya ada satu SMS di file itu.

“Sikapku telah membuat orang yang sangat kucintai terluka. Tapi sama sekali tak ada maksudku untuk menyakiti. Tahukah engkau, sikapmu yang tak mau memaafkan salahku itu juga telah membuatku terluka? Tapi untuk menebus kesalahan itu, akan kutahan dan kuikhlaskan luka itu….Dan aku…..”.
Aku tak mampu melanjutkan membaca SMS yang tak pernah terkirim itu. Mataku sudah dipenuhi air mata. Kupeluk bantal itu erat-erat. Kuciumi. Kudekap. Sembari berharap bahwa dirimulah yang kudekap dan kuciumi itu, suamiku…. (*)

Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :



Puisi Rumah Impian Romantis Cantik Lucu

Puisi Rumah Impian Romantis Cantik Lucu : Kumpulan Puisi Pantun Terbaru

Kau panggul di atas punggung seikat pada rumput
yang berlapis kabut. Perlahan kau turun menyibak
semak berjejak setapak. Tak ada tetes peluh
yang sempat jatuh, sepertinya ia langsung bersetubuh
dengan ruh. Juga tak ada keluh yang berani berlabuh

tampaknya iapun segan dengan langkah yang kukuh
Akar-akar di sekitar merapuh. Ayunan goyang ilalang
menghilang. Dan kabut tersaput waktu kau tengadahkan
wajah mencari di mana sang mentari sedang berjaga

Kaki terus kau ayun, melangkah bergegas turun
tak ingin kau terlambat mengusap wajah si bocah
yang sering gelisah sepulang sekolah. Juga tak hendak
kau dengar lenguh riuh sapi yang resah menanti

Maafkanlah aku tak bisa pulang ke rumah
Rumah pertama yang memberikanku bahagia
Rumah pertama yang mengenalkanku asalmula
Rumahku rahimmu

Rumah itu tak cukup lagi bagi duniaku
Tapi bukan tak cukup bagi hidupku
Kini terlalu bodoh untuk kembali
Tapi bukan terlalu bodoh untuk kuhayati
Rahimmu cahaya nurani

Apakah engkau marah ?
Rumahku kini berwarna biru, kuning, hijau,coklat dan merah
Aku tahu rumah yang dulu tak berwarna
Karena itu dunia pertama

Aku tak ingin pulang ke rumah
Aku ingin bermain lincah
Hingga aku punya rumah sendiri
Seperti rumah pertama kali

Izinkanlah aku tak pulang ke rumah
Rahimmu kutahu tak abadi
Memancar arti untuk aku kembali suci

Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :



Kisah Negeri Tua dan Negeri Muda

Kisah Negeri Tua dan Negeri Muda : Kumpulan Puisi Pantun Terbaru

Sungguh tak sanggup
Menghadirkan orang kuat
Ketika kedua negeri itu berkecamuk
Dengan bayang-bayang menakutkan

Langit pun pecah di negeri ini
Menampik lagu anak-anak jalanan
Sementara negeri disuguhi makanan lezat
Lagu wajib dari negeri lapar

Jika ada yang kuat, dan jika engkau memang jujur
Ne, dua negeri mau, engkau jadi bapaknya
Dan engkau pulas tidur di ranjang istana

Tapi mampukah engkau
Dengan godaan orang-orang negeri ini
Dengan nyanyian menjanjikan

Jangan menangis sayang,
Negeri ini masih ada yang merawat
Walau perawat itu sibuk dengan dirinya
Hingga di pertemuan kita
Dengan keadilan yang penuh makna
Disilahkan kalian tidur
Di ranjang kedua negeri kami
Dan terpaksa kuserahkan luka-luka
Ke perawat yang tak semestinya

Negeri ini, negeri kering
Masa depan mati dalam saku
Sebab orang-orang itu masih hidup
Dan bermain di sini
Karena belum minum arak dan bir untuk mabuk dan gila
Untuk menyanyikan lagu negeri ini dengan indah

“Susu negeri ini manis, roti cokelat ini juga manis sayang
Jangan menangis di dua negeri ini”
Karena airmatamu
Tak mampu menghidupkan kembali negeri yang sudah mati

kisah yang gaib

tibatiba berada disini
saat kutengok ke belakang
bandul jam mengayun
masa kelam

kau sebut ia
sesering kau sebut namaku
kau sebut namamu
melangkahi garis paling merah
pada diri
pada kelopak matamu
kutemukan sahara yang hangus
entah menjelma apa namanya

tak pernah bisa
kau telan kina itu
panasmu tak pernah sembuh
berlompatan diantara celcius
yang berkeringat

setiap hari selalu kau lewati
jalan yang sama
namun tak pernah kau
temui kisah yang sama

kisah yang gaib

Semacam Dendam

semua terasa semacam dendam
kau dan mereka menatapku dengan curiga
dengan rasa marah yang tak dapat kugambarkan
aku hanya ingin menatap diri
berhitung tentang banyak hal
dan merapatkan tubuh pada barisan angkaangka
tapi kau dan mereka mendengar
tangisanku serupa nyanyian
melengking panjang

aku hanya butuh pelukan
di mana ia menyayangiku dengan tandatanda
aku tak akan meminta banyak hal
karena aku merasa memiliki begitu banyak
hanya kepercayaan
yang tak pernah kudapatkan dari kau dan mereka
padanya kutemukan kesakitanku terasa
di tubuhnya

seperti hujan pagi ini
kutemukan genangan dicuram pipi
kau dan mereka
tapi aku tak pernah merasakan apaapa
tak ada yang tergetar dan ingin digetarkan
semua terkecap begitu tawar

beri aku rasa yang lain,cintaku
seperti waktu pertama kali
kau bertemu denganku
lalu merayu dengan bahasabahasa alam
tapi kalian selalu menatapku
dengan kuburan kemarahan
kemarahan yang membuatku
terjebak dan pincang

dengannya, ia selalu memberitahu
semua yang belum aku ketahui
dan yang sudah aku ketahui
akan kami rundingkan pula

Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :



Puisi Kamar Sunyi Saat Malam Hari Romantis Unik Lucu

Puisi Kamar Sunyi Saat Malam Hari Romantis Unik Lucu : Kumpulan Puisi Pantun Terbaru

Sepinya kamar ini
mengitari cakrawala
Menyetubuhi bayang-bayang
Kata sebagai pendamai
Tak jua hilang
Terhapus jejak sepi
Yang lama di telan malam

Imaji itu
Tak mampu kutahan
Lantaran sepi
Terus mengapit kesendirian

Kubiarkan, lelapku tak datang
Kupinjam angin, aku dingin
Kupakai selimut, aku keringat

Di sana
Kutidurkan tubuh
Supaya tenang dalam menyelami kesepian

Di tanah ini engkau selesaikan pengetahuan
Selesaikan jejak tepi surau
Kau sisakan semangkuk bekal
Untuk menginjaki matahari dan hari-hari

Kusimpan bekal itu di kamar
Sebagai persediaan menyambut perhelatan waktu

Tiap hari kupanaskan bekalmu agar tak basi, lalu
Kubagikan pada anak-anak asuh di pintu bangsa
Dan di belakang istana

Aku tak nyangka
Baru kutahu
Negeri yang kudiami, yang dulu ranum
Telah tua dan gersang

Dan tubuhku yang tersisa di sana
Hanyalah gelisah angin istana
Menyampaikan surat permohonan negeri tua
Ke jejak pertemuan matahari

Negeri tua nyaris mati
Tapi betapa rumitnya
Diludahi kaum berdasi
Dan tanah yang merana
Anak-anak berpelukan keringat
Untuk tetap menyampaikannya

Negeri tua yang kudiami
Begitu rawan perampok
Jiwa dan suara senjaku
Mencoba jadi air dan pupuknya
Mungkin biru kembali
Kupu-kupu akan singgah di sini
Selain burung seram
Yang merobek-robek untuk mati kembali

Rakyat puisiku
Mencari nafkah di sana

Tubuh negeri tua
Berdiri sendiri
Adakah negeri tua, kembali
Untuk lebih tua dari bayang-bayangnya


Cv Lampung Service Kursus & Service HP Terbaik Di Indonesia ( Pusat Teknisi Di Indonesia ) Kontak : 081366574266 Alamat Kantor Pusat : Jalan Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko ėOrange
KTouch, Hitech, MyG, IMO, eTouch, Taxco, Beyond, Startech, Asiaphone, Mito, Mixcon, Tocall, S-Nexian, Cross Polytron, Axioo, Mito, IMO, Cross, Nexian, Tiphone Sony, Panasonic, Toshiba, Sharp, Kyocera, DoCoMo, Casio K-Touch, Huawei, Haier, G-Tide, Lenovo, Oppo, ZTE Acer, Asus, HTC, ben Q, Samsung, LG , Apple , iPhone, Motorolla , RIM, Blackberry, Nokia Siemens ,Alcatel, Sagem, Philips,Vertu Ti ,Ninetology, CSL Blueberry ,Micxon, OliveSmart, Idea

    →  HP Berhenti Di Logo
    → Unlock iCloud iPhone
    → Flashing All Merk HP iPhone Android
    → Ganti IC Power
    → Sinyal Hilang
    → Ganti IC Emmc
    → Ringtone Tidak ada Suara
    → Speaker Tidak ada Suara
    → USB Charger Tidak Berfungsi Saat Cas Tidak Terhubung
    →Tombol Power Tidak Dapat Berfungsi
    → Keypad Tidak Dapat Berfungsi
    → Tombol UP dan Down Volume Tidak Berfungsi
    → Tombol Home Tidak Berfungsi
    → SIM Card Tidak Terditeksi
    → Miscro SD Card Tidak Terditeksi
    → IC pada Hp lemah dan tidak berfungsi.
    → Flashing Rom Dari Rom Kw Non original Ke Global/Resmi
    → Stuck Di Logo Android/Ios
    → Upgrade/Downgrade
    → Upgrade/Downgrade
    → Pasang Custom Rom
    → dll

Subscribel Untuk Info Belajar Service HP Di Youtube :

Chanell : https://www.youtube.com/channel/UCAVjAItYQ1iUZ0iRiCngCPw

Subscribel Untuk Info Belajar Kursus Service HP Di Youtube :

Link Tutorial :